Penulis : Taufik Rama Wijaya
TULASAN.ID, Mamasa – Tiga tahun sudah berlalu sejak peristiwa tragis pembunuhan terhadap pasangan suami istri (pasutri) di Kecamatan Aralle, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Namun hingga kini, kasus yang mengguncang masyarakat itu tak kunjung menemui titik terang. Pihak kepolisian belum mampu mengungkap siapa dalang di balik kejadian berdarah tersebut.
Peristiwa itu meninggalkan duka mendalam dan trauma bagi warga Aralle. Banyak pihak berharap aparat penegak hukum segera menuntaskan kasus ini agar rasa aman di tengah masyarakat dapat kembali pulih. Sayangnya, setelah bertahun-tahun, kasus tersebut seolah dibiarkan menggantung tanpa kepastian hukum yang jelas.
Salah satu mahasiswa asal Mamasa yang kini menempuh pendidikan di Majene, Nandar Kurniawan, turut angkat bicara menyoroti lambannya penanganan kasus tersebut. Ia menilai, ketidakjelasan selama tiga tahun terakhir menunjukkan lemahnya komitmen kepolisian dalam menegakkan keadilan di daerah pedalaman seperti Mamasa.
“Sudah tiga tahun sejak kejadian itu, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan siapa pelakunya. Ini membuat masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap kepolisian. Kebenaran seolah sengaja dibiarkan kabur,” tegas Nandar Kurniawan kepada wartawan, Minggu (26/10/2025).
Menurutnya, kepolisian pernah menyampaikan bahwa ada beberapa orang yang sempat ditetapkan sebagai tersangka. Namun, hingga kini, proses hukum tidak berlanjut dan kasus seolah menguap begitu saja.
“Kami mahasiswa dan masyarakat Mamasa di perantauan terus mengikuti perkembangan kasus ini. Tapi setiap kali kami berharap ada kabar baik, justru yang terdengar hanya janji tanpa hasil. Kalau terus begini, bagaimana masyarakat bisa percaya pada hukum?” tambah Nandar.
Ia menekankan, pengungkapan kasus ini bukan hanya soal mencari pelaku, tetapi juga tentang memulihkan rasa aman dan kepercayaan publik terhadap aparat. Selama kasus ini belum terpecahkan, masyarakat Aralle hidup dalam ketakutan dan bayang-bayang ketidakpastian.
“Kepolisian harus serius. Jangan biarkan kasus ini menjadi catatan kelam yang tak pernah diusut tuntas. Ini soal nyawa manusia dan rasa keadilan. Kalau aparat tidak mampu mengungkapnya, bagaimana dengan kasus-kasus lainnya?” ujar Nandar menegaskan.
Desakan agar Polres Mamasa dan Polda Sulawesi Barat turun tangan langsung kini semakin kuat. Warga berharap kepolisian membuka kembali penyelidikan dengan pendekatan yang lebih profesional dan transparan.
Kasus pembunuhan pasutri di Aralle telah menjadi simbol kekecewaan masyarakat terhadap lemahnya sistem penegakan hukum di daerah. Tiga tahun berlalu tanpa kejelasan hanyalah memperpanjang penderitaan keluarga korban dan menambah rasa tidak aman di tengah warga.
“Kami berharap Kapolres Mamasa dan Kapolda Sulbar mendengar suara ini. Ungkap kasusnya, hadirkan keadilan bagi korban dan keluarganya. Jangan biarkan kebenaran terkubur bersama waktu,” tutup Nandar.


