Penulis : Taufik Rama Wijaya
TULASAN.ID, Mamasa – Insiden bendera merah putih yang tampak terpasang terbalik di depan Kantor Golkar Mamasa, Rante-Rante, Desa Osango, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa, menjadi perbincangan hangat di media sosial, khususnya di grup WhatsApp Seputar Berita Mamasa setelah video berdurasi 9 detik itu beredar dan diteruskan oleh Tamrin pada Rabu, (8/10/2025)
Dalam video tersebut, tampak Tamrin tengah menunjuk bendera yang terlihat dalam posisi terbalik. Namun, pihak Golkar Mamasa menegaskan bahwa tidak ada unsur kesengajaan dalam peristiwa itu.
Melalui pesan WhatsApp, Noberthinus, LO sekaligus Admin Sekretariat Golkar Mamasa, menjelaskan bahwa sejak awal Agustus, bendera merah putih telah dipasang dengan benar di halaman kantor partai.
“Sejak awal Agustus kami sudah pasang bendera dengan benar, tapi kami kaget tiba-tiba ada video beredar bendera itu terbalik,” ujar Nober.
Ia menambahkan, pada siang hari sebelum video itu beredar, kantor Golkar dalam keadaan kosong karena para pengurus tengah mengikuti kegiatan pasar murah.
“Sepulang dari kegiatan tersebut, kami tidak memperhatikan bendera itu, tapi setelah ada video beredar kami cek dan memang pengikat benderanya sudah tidak terpasang dengan sempurna,” jelasnya.
Menurut Nober, kondisi tersebut diduga akibat ulah pihak yang sengaja ingin menimbulkan kesan negatif terhadap Golkar.
“Sepertinya ada yang sengaja membalik bendera tersebut dan berniat merusak citra Golkar di Mamasa,” tambahnya.
Senada dengan itu, Ketua DPD II Golkar Mamasa yang juga Wakil Bupati Mamasa, H. Sudirman, menegaskan bahwa pihaknya akan menelusuri pihak-pihak yang mungkin terlibat dalam insiden tersebut.
“Kami akan mencari orang yang melakukan itu karena kita akan identifikasi apakah ada unsur kesengajaan atau ada yang ingin menjatuhkan Golkar di Mamasa,” tegas Sudirman.
Pihak Golkar Mamasa berharap masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh isu yang belum jelas sumbernya. Insiden ini, menurut mereka, menjadi momentum untuk semakin memperkuat solidaritas internal partai dalam menghadapi dinamika politik di Mamasa.


