Penulis: Janwarhadi
TULASAN.ID, Mamasa – Jalan adalah jalur atau rute yang dirancang dan dibangun untuk memungkinkan transportasi darat, baik untuk kendaraan bermotor roda empat, pejalan kaki, maupun sepeda motor.
Jalan memiliki peran penting dalam menunjang mobilitas dan konektivitas, serta mendukung kegiatan ekonomi dan sosial masyarakat. Sehingga sangat penting, suatu daerah memiliki jalan yang layak untuk menunjang aktivitas masyarakat di Kecamatan Pana, Kabupaten Mamasa, hingga kini kondisi itu belum bisa dialami warga. Infrastruktur jalan mereka sangat buruk, bahkan dinilai sebagai salah satu yang paling memprihatinkan di wilayah Mamasa.
Paling parah ketika musim hujan tiba. Akses jalan dari kecamatan Nosu menuju Pana yang seharusnya bisa ditempuh kurang dari satu jam, kerap memakan waktu hingga empat hari. Apalagi ketika ada kendaraan seperti mobil pedagang yang terjebak di jalur itu.
Hal itu mendapat sorotan masyarakat Pana, hingga publik luas. Tokoh pemuda Pana, Krisma T. Langi mengatakan, infrastruktur jalan di kecamatan Pana minim mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Mamasa.
“Padahal daerah ini memiliki potensi besar dalam sektor pertanian. Hasil bumi seperti kopi dan cokelat dari wilayah Pana terkenal berkualitas tinggi. Namun karena akses jalan yang buruk, sebagian besar hasil pertanian lebih banyak dipasarkan ke Kabupaten Tanah Toraja yang memiliki akses jalan lebih baik,” kata Krisma, Jumat (16/05/2025), di Mamasa.
“Satu-satunya harapan masyarakat saat ini adalah perbaikan akses jalan menuju kecamatan Pana. Pengerasan jalan pun sudah kami syukuri, apalagi jika bisa diaspal,” ujarnya.
Krisma mengapresiasi, perhatian pemerintah Mamasa sedikit membaik, khususnya dalam hal penanganan longsor. Dahulu, butuh waktu hingga empat hari untuk mengirim alat berat ke lokasi longsor, bahkan pernah sampai satu bulan akses ke Pana tertutup. Baru-baru ini, alat berat bisa langsung dikerahkan dalam satu hari.
Meski begitu, permasalahan belum berakhir. Bencana longsor yang baru-baru ini terjadi di kecamatan Pana, terutama di desa Ulusalu, kembali memperparah kondisi jalan. Longsor juga berdampak pada sejumlah desa lainnya, membuat akses semakin sulit dijangkau kendaraan biasa.
“Meskipun mobil bupati sempat berhasil melewati jalur tersebut, warga masih ragu kendaraan umum bisa melintasinya,” ungkapnya.
Dijelaskan, kecamatan Pana dikenal sebagai salah satu kecamatan dengan jumlah desa terbanyak di Mamasa. Namun, warga merasa terpinggirkan. Bahkan, muncul wacana di tengah masyarakat untuk bergabung dengan Kabupaten Tanah Toraja karena merasa lebih diperhatikan.
“Kami merasa seperti dianaktirikan. Padahal, dari dulu wakil rakyat dari Pana juga pernah menjadi ketua dan wakil ketua DPRD Mamasa. Tapi hasilnya tidak dirasakan,” jelas Langi.
Ia menambahkan, warga setempat membandingkan kondisi kecamatan Pana dengan kecamatan Tabang yang telah menikmati infrastruktur jalan yang baik.
“Kalau ke Tabang sudah enak jalannya, tapi ke Pana benar-benar menderita,” ujarnya.
Menurut Ketua Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Pengurus Daerah (PD) Mamasa itu, perbaikan jalan merupakan prioritas utama karena berkaitan langsung dengan sektor lain seperti pendidikan dan kesehatan.
“Kalau jalannya tidak bagus, bagaimana pendidikan dan kesehatan bisa berkembang? Bukan berarti dua sektor itu tidak penting, tapi jalan adalah kebutuhan paling mendesak hari ini,” tandasnya.
Permasalahan infrastruktur jalan di kecamatan Pana bukan hanya soal akses fisik, melainkan juga soal keadilan sosial dan pemerataan pembangunan. Jika pemerintah daerah serius menanggapi keluhan ini dengan tindakan nyata, maka potensi besar wilayah ini bisa berkembang optimal dan kesejahteraan masyarakat dapat meningkat. Sebaliknya, ketidakpedulian berkelanjutan hanya akan memperdalam kesenjangan dan menimbulkan ketidakpuasan yang lebih besar di kemudian hari.


