Penulis : Taufik Rama Wijaya
TULASAN.ID, Mamasa – Perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) seharusnya menjadi momen paling sakral dan penuh khidmat. Namun, di Kabupaten Mamasa, Minggu (17/8/2025), upacara detik-detik Proklamasi ke-80 tercoreng insiden memalukan ketika bendera Merah Putih nyaris berkibar terbalik dan bahkan sempat menyentuh tanah.
Aktivis Mamasa, Mathen Ma’dika, mengecam keras peristiwa tersebut dan menilai bahwa kesalahan fatal itu adalah bentuk kegagalan Badan Kesbangpol dalam mengelola persiapan.
“Perayaan HUT RI adalah kegiatan yang sangat sakral, sehingga penting untuk persiapan yang matang. Hari ini terjadi insiden yang sangat memalukan, di mana pengibaran bendera Merah Putih terbalik. Ini adalah kegagalan badan Kesbangpol yang tidak bisa ditolerir,” tegas Mathen.
Ia menyoroti besarnya anggaran yang dikelola Kesbangpol untuk kegiatan Paskibraka, yang tahun ini mencapai Rp 596 juta dan bahkan direncanakan naik menjadi Rp 800 juta pada perubahan APBD. Menurut Mathen, dana sebesar itu seharusnya menjamin upacara berjalan sempurna, bukan justru menyisakan aib di momen sakral.
“Mengelola anggaran ratusan juta namun gagal dalam mensukseskan upacara HUT RI adalah bentuk kelalaian yang serius. Uang rakyat tidak boleh dihamburkan tanpa hasil yang berkualitas,” kritiknya.
Mathen mendesak Bupati Mamasa untuk segera mengambil langkah tegas dengan mengevaluasi menyeluruh kinerja Badan Kesbangpol.
“Kami meminta kepada Bapak Bupati Mamasa untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap badan Kesbangpol. Jangan sampai kesalahan yang mencoreng martabat bangsa ini kembali terulang,” tutup Mathen.
Insiden bendera terbalik ini semakin mempertegas tuntutan publik akan transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran besar di tubuh Kesbangpol, sekaligus menjadi ujian bagi ketegasan pimpinan daerah dalam menegakkan disiplin.


