Penulis: Taufik Rama Wijaya
TULASAN.ID, Mamasa – Ketua Asosiasi Petani Milenial Mamasa, Andi Sulkipli, S.Psi, memberikan tanggapan tegas atas kritik tajam yang dilayangkan terhadap pengukuhan pengurus baru organisasi yang ia pimpin. Dalam pernyataannya, ia menilai bahwa tudingan terhadap para pengurus sebagai “bukan petani sejati” merupakan bentuk penyempitan makna pertanian dan upaya delegitimasi yang tidak berdasar.
“Gerakan petani milenial bukanlah kontes siapa yang paling kotor tangannya, tapi siapa yang bisa membangun masa depan pertanian Mamasa secara sistemik. Kritik itu wajar, tapi jika dibungkus dalam narasi sempit yang reduktif, itu kontraproduktif,” kata Zul sapaan akrabnya saat ditemui di kantor Bupati Mamasa untuk betemu dengan Bupati Mamasa membahas langkah strategis untuk Asosiasi Petani Milenial Mamasa, Kamis, (12/06/2025).
Zul menegaskan bahwa pertanian saat ini tidak bisa hanya digerakkan oleh pelaku lapangan, tetapi juga oleh mereka yang memahami manajemen, teknologi, akses pasar, kebijakan, dan strategi pembangunan desa.
“Kami memang tidak semua berasal dari ladang. Tapi kami membawa pengalaman, jaringan, dan kapasitas. Beberapa dari kami menguasai literasi digital, sebagian lain membangun hubungan dengan sektor swasta dan pemerintah. Itu semua bagian dari ekosistem pertanian modern,” tegasnya.
Menurutnya, Asosiasi Petani Milenial Mamasa dibentuk bukan sebagai wadah romantisisme pertanian, tetapi sebagai platform strategis untuk transformasi pertanian lokal.
Menjawab tuduhan bahwa pengukuhan pengurus adalah bagian dari manuver politik pasca Pilkada, Andi menyatakan bahwa rekonsiliasi politik adalah fondasi kerja kolaboratif dalam demokrasi lokal.
“Saya tidak menutup mata, ada yang punya latar belakang politik. Tapi hari ini mereka berdiri untuk petani. Kalau kita terus-terusan menolak berdasarkan masa lalu seseorang, maka kita sedang menutup masa depan pertanian Mamasa sendiri,” ujarnya.
Zul juga mengingatkan bahwa dalam sistem demokrasi yang sehat, pengelolaan organisasi publik termasuk asosiasi petani memang harus inklusif dan membuka ruang bagi semua pihak yang bersedia bekerja.
Dalam pernyataannya, Zul juga menanggapi narasi yang menyebut sebagian pengurus sebagai “petani palsu”.
“Ini adalah politisasi moral. Kita tidak boleh terjebak pada dikotomi yang memecah: ‘petani otentik’ vs ‘petani palsu’. Petani milenial hari ini bukan cuma tukang cangkul. dia juga pengelola merek lokal, dan pengelola logistik distribusi hasil tani. Jangan ukur dedikasi hanya dari lumpur di kaki,” katanya.
Zul mengakhiri pernyataannya dengan mengajak semua pemuda Mamasa yang aktif di bidang pertanian untuk bergabung dan berkontribusi, bukan berdiri di luar dan hanya mengkritik.
“Kami membuka pintu selebar-lebarnya untuk kolaborasi. Mari kita susun program bersama, bangun roadmap, dorong perubahan nyata. Kalau memang kalian lebih baik, kami sangat ingin belajar dari kalian.” tegasnya.
Dengan posisi sebagai Ketua Asosiasi Petani Milenial, Andi Sulkipli berharap polemik ini tidak berlarut-larut, dan semua energi dapat difokuskan pada satu hal: membangun masa depan pertanian Mamasa yang mandiri, modern, dan adil.


