HomeAdat & BudayaStorytelling untuk Advokasi Adat: Masyarakat Mamasa Dilatih Menulis dan Mengelola Media Sosial

Storytelling untuk Advokasi Adat: Masyarakat Mamasa Dilatih Menulis dan Mengelola Media Sosial

Penulis: Taufik Rama Wijaya

TULASAN.ID, Mamuju Penguatan kapasitas komunikasi masyarakat adat menjadi fokus utama dalam pelatihan menulis dan storytelling yang digelar sebagai bagian dari Impact Seed Fund (ISF) Pulitzer Center 2025. Kegiatan ini menghadirkan jurnalis senior Untung Widyanto serta jurnalis investigatif Eko Mallo Rusdianto, dan difasilitasi oleh RCCC UI, Universitas Sulawesi Barat, AMAN PUS Kondosapata Wai Sapalelean, serta Sekolah Tinggi Teologi Mamasa.

Dalam pemaparannya, Untung Widyanto menjelaskan dinamika media dan tantangan komunikasi di era digital. Ia menegaskan bahwa platform seperti TikTok dan YouTube kini menjadi sumber berita utama di banyak negara Global South. Banjir informasi, bias algoritma, hoaks, hingga merosotnya kepercayaan publik terhadap media membuat pesan penting masyarakat adat sering tidak terlihat. Karena itu, menurutnya, dibutuhkan strategi komunikasi yang lebih kuat, kreatif, dan berbasis narasi.

Untung menekankan bahwa storytelling adalah unsur kunci dalam advokasi modern. Fakta dan data saja tidak cukup untuk menggerakkan publik; pesan harus disajikan dalam bentuk cerita yang memiliki karakter, konflik, emosi, serta alur yang jelas. Ia mengajak peserta untuk melampaui pendekatan 5W+1H dengan menambahkan konteks, keberagaman suara, anekdot, dan penjelasan mengenai signifikansi sosial maupun ekologis.

Pelatihan ini juga memperkenalkan teknik penyusunan outline liputan sebagai fondasi profesional dalam penulisan. Peserta dilatih menentukan angle, memilih narasumber, menyusun daftar pertanyaan, hingga mengatur alokasi kerja. Dengan teknik ini, masyarakat adat diharapkan mampu menyampaikan isu tentang hutan, budaya, dan pengalaman ekologis mereka dengan lebih efektif dan akuntabel di ruang digital.

Pada sesi berikutnya, Eko Mallo Rusdianto, penerima ISF Pulitzer Center 2024, berbagi pengalamannya dalam jurnalisme investigatif yang berakar pada komunitas adat. Ia menekankan pentingnya sensitivitas budaya, etika lapangan, serta membangun kepercayaan dengan masyarakat adat sebagai syarat menghasilkan karya jurnalistik yang berdampak.

Pelatihan yang diikuti oleh pemuda adat, aktivis komunitas, jurnalis lokal, mahasiswa, dan akademisi ini juga diisi dengan praktik produksi tulisan, foto, hingga video singkat. Panitia menyelenggarakan kompetisi konten media sosial untuk meningkatkan kreativitas peserta sekaligus memperkuat pesan ekologis berbasis adat.

Kegiatan ini menegaskan bahwa penguatan suara masyarakat adat di ruang digital merupakan langkah strategis untuk memastikan narasi budaya, nilai ekologis, dan advokasi lingkungan dapat menjangkau audiens yang lebih luas di tengah kompetisi media yang semakin ketat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

spot_img