HomeAdat & BudayaPelatihan Radio dan Pelestarian Budaya Pitu Ulunna Salu Digelar di Mambi

Pelatihan Radio dan Pelestarian Budaya Pitu Ulunna Salu Digelar di Mambi

Penulis: Taufik Rama Wijaya

TULASAN.ID, Mamasa – Kegiatan pelatihan peningkatan kapasitas pengguna radio sekaligus pelestarian budaya Pitu Ulunna Salu (PUS) dilaksanakan pada Rabu,(21/5/2025), di Aula Lantang Kada Nene’, Kelurahan Mambi, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa.

Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara Orari Lokal Mamasa dan lembaga internasional Cultural Survival.

Pelatihan ini bertujuan untuk memperkenalkan kebudayaan lokal Pitu Ulunna Salu serta pemanfaatan radio amatir sebagai sarana komunikasi dan pelestarian budaya.

Ketua Orari Lokal Mamasa, Muhklis, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat identitas budaya masyarakat.

“Memperkenalkan kebudayaan PUS dan radio amatir agar dapat digunakan oleh masyarakat untuk memperkuat budaya dan kultur yang ada di wilayah Pitu Ulunna Salu,” ujar Muhklis.

Ia juga berharap kegiatan ini dapat mempererat silaturahmi dan memperluas kerja sama agar Orari lebih dikenal dan turut berperan aktif dalam pelestarian budaya lokal.

Pelatihan ini dihadiri oleh berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat, termasuk Camat Mambi, Danramil, Lurah Mambi, Kapolsek Mambi, serta para tokoh masyarakat. Sekitar 50 peserta yang terdiri dari unsur pemuda dan perempuan turut ambil bagian dalam pelatihan ini.

Salah satu tokoh masyarakat sekaligus pembicara tentang kebudayaan PUS, Rahmadi (50), mengapresiasi kegiatan ini. Ia menilai pelatihan ini sangat positif dan berharap ke depan kegiatan serupa dapat diperluas dengan melibatkan seluruh instansi pemerintahan baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten.

“Kegiatan ini sangat positif dan saya berharap gaung kegiatan seperti ini bisa lebih besar. Dengan adanya Orari, pelestarian kebudayaan PUS sangat terbantu, khususnya dalam mempererat tali silaturahmi melalui komunikasi radio,” kata Rahmadi.

Ia juga menyoroti tantangan dalam pelestarian budaya lokal akibat pengaruh kemajuan zaman dan keterbatasan finansial. Sejumlah tarian tradisional seperti Ledo-Ledo, To Sumanyo, Pa Jaga, dan Pangnganda mulai jarang dipraktikkan.

Rahmadi berharap pemerintah lebih serius dalam mendukung pelestarian budaya PUS. “Peran serta pemerintah sangat dibutuhkan karena selama ini program pemerintah dalam pelestarian budaya, khususnya di wilayah Pitu Ulunna Salu, masih sangat minim,” tambahnya.

Kegiatan ini menjadi langkah awal yang penting dalam memperkuat sinergi antara teknologi komunikasi dan pelestarian budaya, guna menjaga warisan leluhur tetap hidup di tengah arus modernisasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

spot_img